Cerita oleh : Ben Susilo
Diproduseri oleh : Ben Susilo
Diperankah oleh : Manu, Adek, Ibuk, Bapak
Latar : Rumah Manu, rumah sakit
Bagian : Bagian 1 dari 2 sekuel.
Cerita ini adalah fiktif, jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita kami mohon maaf. Tujuan kami agar menjadi inspirasi bagi pembaca.
Cerita ini berawal ketika Manu hendak pulang mudik ke daerah asalnya di kota ujung provinsi Jateng. Seperti biasa setiap hendak pulang ia selalu berpamit kepada orang tua, terutama ibuknya di rumah.
"Ibuk, saya nanti pulang..." Kata Manu melalui pesan singkat yang dikirim pagi hari.
Manu menunggu, dan terus menunggu sembari sesekali melihat ponsel yang selalu ia genggam. Manu mulai menunjukkan kegelisahannya. Mengapa ibuknya tidak membalas sms yang ia kirim. "Apa ibuk masih marah ?" Pikirnya dalam hati. Namun ia tidak mau berfikir macam - macam. "Mungkin ibuk sedang sibuk, atau lupa membawa ponsel." Ucapnya sambil menggumam.
Manu pun berusaha menjalani aktivitas hariannya seperti biasa. Ia tak mau berfikir yang negatif tentang ibuknya. Memang beberapa hari yang lalu Manu dan ibuknya sempat bertengkar hanya karena berselisih paham.
Hari sudah menjelang sore hari, pukul setengah tiga sore. Ia bersiap hendak berangkat pulang. Sepeda motor ia panasi mesinnya terlebih dahulu. Lalu tak lupa saat itu juga ia mengirim sms ke ibuknya lagi.
"Ibuk, saya pulang." Begitu singkat bermaksud memberi kabar. Selang beberapa saat tak juga ia dapati balasan sms dari ibuknya. Ia pun bergegas menaiki motornya, menarik tuas kopling lalu menginjak perseneling dan diurutlah tuas gas perlahan sambil melepas tuas kopling. Sembari berdo'a, ia perlahan melajukan motornya.
Sepanjang jalan Manu masih saja kepikiran. Apa gerangan yang membuat ibuk yang ia sayang tak jua mau membalas smsnya. Sesekali ia mencek ponselnya sembari mengendalikan laju motor yang lumayan berat bagi tubuh kurusnya. Suasana hati gundah tak karuan. Pikirannya kabur kemana - mana. Meski mata fokus tertuju ke jalan raya, namun tatapannya kosong. Bahkan sering jalan berlubang pun tak ia hiraukan untuk diterjang.
Perjalanan memakan waktu tiga jam. Sampailah ia di rumah, bergegas memasukkan motor ke dalam garasi. Tanpa pikir panjang, seolah ia lupa kejadian sebelumnya, ia bergegas masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum..." Salamnya sambil berjalan ke dalam.
"Wa'alaikumsalaam..."
"Maaasss.... !!!" Seperti biasa sambutan gembira dari sang adek. Mendengar teriakan adeknya itu, letih yang ia rasakan pun seolah perlahan memudar dan hilang. Meneruskan langkahnya menuju dalam rumah, di ruang tengah, sedang bersantai menonton siaran TV, bapak. Manu salim dengan bapak, dan mencium tangan yang hampir dua kali lipat lebih besar dari tangannya.